PEMBAGIAN RUKUN SHALAT
oleh : Faruq Baharudin
Seluruh rukun shalat terbagi menjadi 3, antara lain :
1. Rukun Af’alul Qalbi (perbuatan hati)
Rukun ini hanya ada 1, yaitu niat. Pelaksanaan niat harus dibersamakan dengan Takbiratul
Ihram. Dalam niat terdapat unsur-unsur yang harus ada disesuaikan dengan shalat yang
dikerjakan. Secara terperinci adalah sebagai berikut :
a. Shalat Fardlu sendirian[1] :
1. Qhosdu Fi’li (saya shalat)
2. Fardhiyyah (fardhu)
3. Ta’yin (nama shalat)
b. Shalat Fardlu berjama’ah[2] :
1. Qhosdu Fi’li (saya shalat)
2. Fardhiyyah (fardhu)
3. Ta’yin (nama shalat)
4. Imaman (jika menjadi imam) atau Ma’muman jika menjadi (ma’mum)
c. Shalat Sunnah Rowatib[3] :
1. Qhosdu Fi’li (saya shalat)
2. Ta’yin (nama shalat)
d. Shalat Sunnah Muthlaq[4] :
1. Qhosdu Fi’li (saya shalat)
2. Rukun Qouliyyah (ucapan)
Adalah rukun yang diucapkan. Rukun ini ada 5 macam, antara lain :
a. Takbiratul Ihram[5]
b. QS. Al-Fatihah di setiap raka’at
c. Tasyahud Akhir
d. Shalawat Nabi
e. Salam
Syarat Rukun Qauliyyah
1. Harus terdengar oleh telinga sendiri, kecuali jika tuli atau terganggu suara lain
2. Tidak mengurangi tasydid dan hurufnya
3. Harus mengeluarkan huruf-hurufnya sesuai dengan tempat keluarnya (makharijul huruf)
4. Tidak boleh merubah huruf yang menyebabkan perubahan makna
5. Tidak boleh merubah harakat yang menyebabkan perubahan makna
6. Harus terus-menerus di antara kaliamt-kalimatnya
7. Harus tertib di antara susunannya
3. Rukun Fi’liyyah (gerakan)
Adalah rukun yang dikerjakan oleh anggota tubuh. Rukun ini ada 8 macam, antara lain :
1. Berdiri
2. Ruku’ dengan tuma’ninahnya
3. I’tidal dengan tuma’ninahnya
4. Sujud awal dengan tuma’ninahnya
5. duduk di antara 2 sujud dengan tuma’ninahnya
6. Sujud kedua dengan tuma’ninahnya
7. Duduk tasyahud terakhir
8. Tertib
Syarat Rukun Fi’liyyah :
1. Hanya dapat dikerjakan jika rukun sebelumnya sudah sah. Jika rukun sebelumnya belum
sah maka harus mengulang kembali, kecuali ma’mum[7].
2. Pada saat melakukan rukun ini, tidak boleh niat melakukan rukun apapun selain rukun
tersebut[8].
End Note :
[1] Jika kita shalat dhuhur, maka niat yang ada dalam dalam hati adalah saya niat shalat fardlu dhuhur, 4 raka’at, menghadap kiblat, tepat waktu, hanya kerena Allah SWT. Dari unsur-unsur tersebut, yang wajib ada adalah saya niat shalat fardlu Dhuhur. Sementara yang lainnya tidak harus diniatkan.
[2] Hanya menambah status kita menjadi imam atau ma’mum
[3] Tidak memerlukan kata-kata Sunnah. Jika kita shalat Ba’diyyah Maghrib, maka cukup dalam hati mengatakan saya shalat ba’diyyah Maghrib.
[4] Shalat sunnah yang tidak memiliki sebab yang mendahului atau mengakhiri. Dalam niatnya tidak diperlukan apapun kecuali hanya kata kata saya shalat. Hal ini sudah cukup.
[5] Imam Syibromulisi mengatakan diperbolehkannya memanjangkan lafadz Allah sampai dengan 14 harakat
[6] Jika sudah yakin bahwa ruku’nya sudah sah, maka boleh melakukan i’tidal, sampai seterusnya
[7] Jika ma’mum merasa ruku’nya belum sah, maka dia harus tetap mengikuti imam dan harus menambah 1 rakaat kembali setelah salam.
[8] Ketika hendak duduk di antara 2 sujud, tidak diperkenankan niat duduk tasyahud awal/akhir
Selengkapnya…
Tampilkan postingan dengan label FIQH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIQH. Tampilkan semua postingan
07 Februari 2009
PEMBAGIAN RUKUN SHALAT
VALENTINE DAY
KASIH SAYANG ALLAH
oleh : Faruq Baharudin
Dalam sebuah hadits, Baginda Rasulullah SAW bersabda :
لا تجلسوا عند كل عالم إلا الذى يدعوكم من الخمس إلى الخمس : من الشك إلى اليقين ومن التكبر إلى التواضع ومن العداوة إلى النصيحة ومن الرياء إلى الإخلاص ومن الرغبة إلى الزهد
Kandungan hadits tersebut mengajak kita untuk melakukan hijrah dari 5 sikap ke 5 sikap yang lain. 1 di antara 5 sikap itu adalah pindah dari sikap ragu kepada sikap yakin. Dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, kita harus yakin, mantap dan tidak ada keraguan sedikitpun tentang kebenaran ajaran agama kita, yaitu agama Islam. Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Bahkan baginda Rasulullah SAW di utus oleh Allah dengan membawa misi Rohmatan Lil 'Alaamiin, rahmat untuk seluruh umat. Bukan satu, dua atau tiga umat, tapi seluruh umat di dunia ini. Bukan hanya pada jaman Nabi Muhmmad, para sahabat, tabi'in, tabi'it tabi'in dan para ulama setelahnya, tapi untuk sepanjang jaman sampai hari kiamat nanti.
Beliau memiliki sifat kasih sayang yang tiada banding besarnya. Kita sebagai umatnya, adalah umat yang paling diprioritaskan dalam perhatian kasih sayangnya. Betapa tidak, ketika beliau hendak meninggal dunia, yang beliau sebut adalah umatnya, umatnya dan umatnya.
Sehingga tidaklah heran jika Allah sendiri memberikan predikat yang sangat khusus kepada Nabi'nya. Beliau mendapat gelar "ar-Rohim". Dalam Al-Qur'an banyak sekali disebutkan kata-kata Ar-Rahim, yang notabene adalah sifat kasih sayang milik Allah. Namun kata "ar-Rohim" yang ada di QS. ... dikhususkan oleh Allah untuk hamba-Nya yang paling sempurna. Semoga Shalawat dan Salam tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Kasih sayang bukanlah kata yang asing bagi kita sebagai umat Islam. Kita punya kewajiban untuk menerapkanya dan menebarkannya dimanapun kita berada dan kapanpun kita berada. Kita sampaikan kepada orang lain bahwa Islam adalah agama kasih sayang, agama yang penuh perhatian terhadap kesopanan, keindahan, kerukunan dan lain sebagainya. Kalau bukan orang Islam sendiri yang menerapkannya, maka ajaran kasih sayang akan di klaim oleh agama lain yang terkenal dengan ajaran Kasih Sayang.
Sejak 14 abad lebih, Baginda Rasulullah SAW telah mengajarkan hal ini kepada umatnya. Dalam kondisi perang misalnya, banyak aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh setiap pelakunya. Tidak boleh membunuh wanita, anak-anak, orang yang sudah menyerah dan tidak mampu melawan. Tidak melakukan penyerangan lebih dahulu, kecuali jika telah diserang dahulu oleh lawan atau jika sudah terjadi kesepakatan. Itu semua telah dilakukan oleh para sahabat Nabi dibawah bimbingannya, sebagai bentuk perwujudan kasih sayang.
Setiap memasuki bulan Februari, seluruh manusia mengenal hari yang disebut dengan Valentine Day. Mulai dari yang remaja sampai yang dewasa bahkan sampai yang tua mengenal apa yang disebut dengan Valentine Day. Semua sepakat hari itu adalah hari Kasih Sayang, moment yang tepat untuk menumpahkan kasih sayang kepada orang yang yang dicintainya. Sebuah tradisi yang positif, ditinjau dari segi lahiriyahnya.
Namun, yang perlu diketahui adalah bahwasanya tradisi itu bukanlah tradisi ajaran Islam, melainkan tradisi orang-orang Barat untuk menghancurkan agama Islam dari dalam. Betapa tidak, momen-momen itu dijadikan kesempatan untuk melakukan tindakan yang membuat Allah murka. Banyak anak-anak muda, baik laki-laki atau perempuan mengklaim bahwasanya hari itu adalah hari yang pas untuk berbuat sesukanya, memberikan yang terbaik untuk teman spesialnya, bahkan sampai pada tingkatan yang paling parah, yaitu pesta dugem, minum-minuman keras, narkoba, free sex dan lain sebagainnya.
Ironis, sebuah kata yang tepat untuk kita ungkapkan ketika melihat kondisi negeri kita, Indonesia. Sebuah negara yang jumlah penduduk muslimnya terbanyak di dunia. Namun dari segi kualitas, amat sangat anjlok. Siapa yang mengira, ternyata pelaku-pelaku ma'siyat kebanyakan dari orang-orang yang mengaku muslim. Adegan-adegan kurang pantas yang ditayangkan di layar TV, ternyata banyak diperankan oleh orang-orang muslim. Ironis, ironis, amat sangat ironis dan tidak layak untuk negara yang jumlah pemeluk agama Islamnya terbesar di dunia.
Melihat seperti ini, sudah selayaknya kita sebagai orang tua memberikan nasehat yang baik untuk putra-putri kita. Betapa, Valentin Day adalah hari yang tidak memberikan pengaruh apapun buat kita. Kasih sayang tidaklah terbatas pada setiap tanggal 14 Februari saja, akan tetapi terus berlangsung sampai kapanpun dan dimana pun.
Baginda Rasulullah SAW bersabda:
ارحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء
"Kasihanilah makhluq yang ada di bumi, niscaya engkau akan dikasihani oleh yang ada di langit".
Kasih sayang Allah adalah segala-galanya. Dengan rahmat-Nya itulah, maka kita bisa merasakan kenikmatan yang sangat besar. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, semuanya tidak ada yang bukan berasal dari Allah SWT. Sebuah nikmat yang tidak terhitung banyaknya. Kita harus bisa menggapainya.
Dalam QS. Al-Baqarah 218 Allah SWT berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang telah beriman dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah adalah Dzat Yang Maka Pengampun lagi Maha Penyayang.
04 Februari 2009
Shalat Penting ???
Shalat
oleh : Faruq Baharudin
Sholat adalah ibadah yang paling penting dalam Islam. Begitu pentingnya, sampai Rasulullah SAW mengibaratkan shalat sebagai tiang agama. Dalam sebuah hadits beliau bersabda :
الصلاة عماد الدين . فمن أقامها فقد أقام الدين . ومن تركها فقد هدم الدين
“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang mendirikannya, maka sungguh dia mendirikan agama. Dan barang siapa yang meninggalkannya, maka dia merobohkan agama.”
Allah memberikan kewajiban shalat kepada setiap orang yang sudah memenuhi kriterianya, di antaranya adalah Islam dan sudah memasuki usia baligh. Dia tidak pernah mencabut kewajiban shalat dari setiap orang Islam, kecuali kalau orang itu sudah dalam kondisi meninggal. Dalam keadaan bagaimana pun, dimana pun dia berada, kapan pun dia berada, shalat tidak diperbolehkan untuk ditinggalkan.
Ketika kita dalam keadaan normal, maka kita harus melaksanakan shalat secara sempurna sesuai dengan syarat dan rukunnya yang berlaku. Sementara, jika dalam kondisi tidak normal (sakit, ketakutan, dalam perjalanan jauh dan lain-lain) maka kta akan memperoleh fasilitas Allah yang disebut dengan rukhshoh. Semua ini dalam rangka tidak diperbolehkannya meninggalkan shalat.
Hal ini merupakan implikasi dari sabda Rasulullah SAW yang mengarah pada dijadikannya shalat sebagai acuan ibadah pertama, yang menjadi penentu baik tidaknya ibadah-ibadah yang lain. Beliau bersabda :
Ketika kita dalam keadaan normal, maka kita harus melaksanakan shalat secara sempurna sesuai dengan syarat dan rukunnya yang berlaku. Sementara, jika dalam kondisi tidak normal (sakit, ketakutan, dalam perjalanan jauh dan lain-lain) maka kta akan memperoleh fasilitas Allah yang disebut dengan rukhshoh. Semua ini dalam rangka tidak diperbolehkannya meninggalkan shalat.
Hal ini merupakan implikasi dari sabda Rasulullah SAW yang mengarah pada dijadikannya shalat sebagai acuan ibadah pertama, yang menjadi penentu baik tidaknya ibadah-ibadah yang lain. Beliau bersabda :
أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة الصلاة . فإن صلحت صلح سائر عمله . وإن فسدت فسد سائر عمله .
“Pada hari kiamat, ibadah seseorang yang pertama kali diperhitungkan adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka seluruh amalnya juga baik. Jika shalatnya rusak, maka seluruh amalnya juga rusak.”
Dimanakah sinkronisasi antara shalat dengan ibadah-ibadah yang lain ?
Mengapa yang dijadikan sebagai acuan adalah ibadah shalat ?
Bukan puasa, zakat atau haji ?
Allah SWT berfirman :
Dimanakah sinkronisasi antara shalat dengan ibadah-ibadah yang lain ?
Mengapa yang dijadikan sebagai acuan adalah ibadah shalat ?
Bukan puasa, zakat atau haji ?
Allah SWT berfirman :
إن الصلاة تنهى عن الفخشاء والمنكر“
Sesungguhnya shalat itu mencegah seseorang untuk berbuat keji dan munkar”
Shalat yang dilakukan dengan sempurna, khusyu’ serta sesuai dengan syarat dan rukunnya, maka akan memberikan efek positif yang luar biasa pada pelakunya. Ketika kita melihat betapa banyak kejahatan, keburukan dan kema’siatan di sekitar kita, dan yang lebih ironis lagi, semua itu lebih banyak dilakukan oleh umat Islam yang taat, maka secara tidak langsung, kita juga akan mengetahui betapa rendahnya kualitas shalat mereka. Darimana kita tahu? Ternyata shalat mereka tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap apa yang mereka perbuat.
Orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang paling berbahaya untuk kondisi kehidupannya. Dia sudah hampir mendekati kekafiran. Rasulullah SAW bersabda ”
Shalat yang dilakukan dengan sempurna, khusyu’ serta sesuai dengan syarat dan rukunnya, maka akan memberikan efek positif yang luar biasa pada pelakunya. Ketika kita melihat betapa banyak kejahatan, keburukan dan kema’siatan di sekitar kita, dan yang lebih ironis lagi, semua itu lebih banyak dilakukan oleh umat Islam yang taat, maka secara tidak langsung, kita juga akan mengetahui betapa rendahnya kualitas shalat mereka. Darimana kita tahu? Ternyata shalat mereka tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap apa yang mereka perbuat.
Orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang paling berbahaya untuk kondisi kehidupannya. Dia sudah hampir mendekati kekafiran. Rasulullah SAW bersabda ”
بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة
“Dinding pemisah antara seseorang memiliki identitas muslim dan musyrik serta kafir adalah meninggalkan shalat”
العهد الذى بيننا وبينهم الصلاة . فمن تركها فقد كفر
”Komitmen yang terjadi di antara kita dan mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya, maka sungguh dia menjadi kafir”
Betapa tipisnya perbedaan antara orang yang disebut dengan muslim dan kafir. Ketika seseorang meninggalkan shalat, maka statusnya terbagi menjadi 3, yaitu :
1. Lupa, lalai dan ketiduran
Ketika seseorang meninggalkan shalat karena benar-benar lupa atau ketiduran (bukan berpura-pura), maka hal ini masih diampuni. Rasulullah SAW bersabda :
2. Malas dan menunda-nunda
Jika dia meninggalkan shalat karena malas dan menunda-nunda, maka dia disebut dengan pelaku dosa besar. Jika hal ini menjadi sebuah kebiasaan dan tidak segera dibenahi, maka bisa nyerempet pada kekufuran.
3. Karena menentang dan melawan
Ketika seseorang berani meninggalkan shalat dan dalam dirinya ada rasa menentang, melawan dan anggapan untuk apa shalat, tidak ada guna dan manfaatnya, maka seketika itu juga dia menjadi murtad (keluar dari agama)
Pernahkah kita meninggalkan shalat?
Pernahkan ada perasaan meninggalkan shalat karena malas, menunda-nunda, menentang dan, melawan?
Semua ini bisa kita jadikan sebagai bentuk introspeksi diri kita. Hanya kita yang tahu tentang shalat kita.
Dalam Al-Qur’an, orang yang mengerjakan shalat disebut dengan kata muqiimu yang berarti mendirikan. Allah tidak menggunakan kata faa’ilu, meskipun artinya sama dengan kata muqiimu. Jika kita mengamati kata ash-shalat dalam Al-Qur’an, kemudian kita gandengkan dengan kata mengerjakan, maka Allah selalu menyertainya dengan kata yang merupakan pecahan dari kata kata ini.
Kata muqiimu merupakan bentuk isim fa’il dari kata aqaama – yuqiimu – iqaamatan - wa muqaaman - fahuwa - muqiimun - wadzaaka - muqaamun - aqim - laa tuqim – muqaamun – muqaamun. Kata inilah yang ada dalam doa nabi Ibrahim AS.
Betapa tipisnya perbedaan antara orang yang disebut dengan muslim dan kafir. Ketika seseorang meninggalkan shalat, maka statusnya terbagi menjadi 3, yaitu :
1. Lupa, lalai dan ketiduran
Ketika seseorang meninggalkan shalat karena benar-benar lupa atau ketiduran (bukan berpura-pura), maka hal ini masih diampuni. Rasulullah SAW bersabda :
2. Malas dan menunda-nunda
Jika dia meninggalkan shalat karena malas dan menunda-nunda, maka dia disebut dengan pelaku dosa besar. Jika hal ini menjadi sebuah kebiasaan dan tidak segera dibenahi, maka bisa nyerempet pada kekufuran.
3. Karena menentang dan melawan
Ketika seseorang berani meninggalkan shalat dan dalam dirinya ada rasa menentang, melawan dan anggapan untuk apa shalat, tidak ada guna dan manfaatnya, maka seketika itu juga dia menjadi murtad (keluar dari agama)
Pernahkah kita meninggalkan shalat?
Pernahkan ada perasaan meninggalkan shalat karena malas, menunda-nunda, menentang dan, melawan?
Semua ini bisa kita jadikan sebagai bentuk introspeksi diri kita. Hanya kita yang tahu tentang shalat kita.
Dalam Al-Qur’an, orang yang mengerjakan shalat disebut dengan kata muqiimu yang berarti mendirikan. Allah tidak menggunakan kata faa’ilu, meskipun artinya sama dengan kata muqiimu. Jika kita mengamati kata ash-shalat dalam Al-Qur’an, kemudian kita gandengkan dengan kata mengerjakan, maka Allah selalu menyertainya dengan kata yang merupakan pecahan dari kata kata ini.
Kata muqiimu merupakan bentuk isim fa’il dari kata aqaama – yuqiimu – iqaamatan - wa muqaaman - fahuwa - muqiimun - wadzaaka - muqaamun - aqim - laa tuqim – muqaamun – muqaamun. Kata inilah yang ada dalam doa nabi Ibrahim AS.
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء (إبراهيم 40) رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (إبراهيم 41)
Dalam doanya, Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah agar dijadikan sebagai Muqiimush Shaalaat. Untuk memperoleh predikat Muqiimush Shaalaat, maka ada 4 syarat yang harus dipenuhi, antara lain :
1. Shalat yang dilakukan tepat pada waktunya
2. Berjama’ah
3. Sesuai dengan syarat dan rukunnya
4. Khusyu’Tidak pernah meninggalkan sama sekali
Langganan:
Postingan (Atom)